Wak Turi, begitu akrab kami memanggilnya. Teman kami yang penuh
prinsip bagaikan tongkat, berdiri tegak membantu sesama untuk berdiri
dengan penuh semangat. Dulu, Wak Turi bisa dibilang nakal sebelum
mondok di Kajen. Pilihan
mondok di Kajen adalah pilihan ibunda Wak Turi yang satu tempo ketika bermunajat kepada Tuhan, dating sebuah bisikan, “
nek kepengen anakmu mari, dusi banyu Kajen” (Kalau ingin anakmu sembuh dari kenakalannya, mandikanlah air Kajen).
Di
penghujung Tahun 2008 masa pengabdian kepada Pesantren tercinta PMH
Pusat, sahaya mengajukan Wak Turi dan Kang Eri (Kapolda) kepada Abah
sebagai pilihan untuk menjadi calon Ketua PMH Pusat Periode 2009. Dan
alhamdulillah, Wak Turi-lah yang mendapat suara terbanyak sehingga lebih
berhak untuk mengemban amanah dari Abah. Selama kepemimpinan Wak Turi
sebagai Ketua PMH Pusat, seiring dengan bangunan PMH Pusat yang baru,
banyak program-program maupun kebijakan-kebijakan baru yang benar-benar
melahirkan banyak kebajikan bagi segenap warga santri PMH Pusat. Wak
Turi benar-benar mengemban amanah ini dengan sepenuh hati, segenap jiwa
dan raga. Wak Turi benar-benar menjadi pemimpin yang dalam bahasa Bung
Karno “seorang yang melampaui dirinya sendiri” karena ia lebih
mengutamakan kepentingan bersama melampaui dan mengalahkan
kepentingannya sendiri. Seorang pemimpin yang merakyat karena antara
dirinya dan rakyatnya tiada sekat. Seorang pemimpin yang menjadi suri
tauladan, karena betapa ia selalu mengajarkan bahwa apapun jika diniati
khidmah kepada Kyai pasti akan mendatangkan keberkahan. Ibarat Imam
dalam Shalat, Wak Turi adalah Imam yang pas bagi warga PMH Pusat.
Bagaimana tidak? Shalatnya tidak terlalu cepat hingga yang belum bisa
shalat tidak terlambat, atau tidak terlalu lambat hingga yang sudah bisa
shalat pun tidak menunggu dengan berat. Pas! Ia sering menjuluki
dirinya dengan “Wisnu” yang merupakan dewa pemelihara dan pelindung alam
semesta, dengan harapan bahwa ia pun ingin menjadi pemelihara dan
pelindung alam semesta dengan menjadi
sayyidin panatagama khalifatullah ing tanah juwana.
Di
penghujung Tahun 2009, Wak Turi bercerita bahwa ia bermimpi mengimami
Kang Ridho. Dan ternyata mimpi itu mengejawentah dalam dunia nyata. Ya,
Wak Turi terpilih untuk yang kedua kalinya menjadi Ketua PMH Pusat
Periode 2010, dan Kang Muhammad Ridhollah Mu’thi sebagai wakilnya. Dalam
catatan sejarah, baru kali ini ada Ketua PMH Pusat yang mengemban
amanah selama dua tahun berturut-turut. Dan banyak sekali yang
dipersembahkan Wak Turi untuk PMH Pusat. Apalagi ketika datang even
tahunan yakni peringatan maulidiyyah yang diselenggarakan oleh empat
pesantren komplek pol-garut, PMH Pusat, PMH Putra, PMH al-Kautsar, dan
PMH Timur. Wak Turi begitu antusias nguri-nguri tradisi
maulidan peringatan
kelahiran Baginda Rasul SAW yang kelahirannya ditunggu-tunggu dengan
gembar-gembira oleh seluruh alam. Ia selalu mengajak seluruh warga PMH
Pusat untuk
nderek hurmat Kanjeng Nabi dengan mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan oleh Panitia Maulidiyyah (Pamal) termasuk lomba.
Di penghujung tahun 2010, malam
nishfu sya’ban, malam
mustajabah dimana doa-doa yang dilayangkan akan mudah terkabulkan,
malam keramat dimana buku amal setahun akan ditutup dan diganti dengan
lembaran-lembaran baru, semalaman ia tidak tidur. Entah doa apa saja
yang ia panjatkan, tetapi yang jelas ia masih ingin selalu bersama Abah
dan mengabdi kepada Abah. Esok harinya, ia ditimbali. Dan, di hari-hari
kemudian ia pindah ke kamar sebelah ndalem Abah belakang toko.
Alhamdulillah, Wak Turi masih bisa meneruskan pengabdiannya kepada Abah.
Pekerjaan apapun ia lakukan selama ia mampu dan kuat, dengan tekad yang
bulat bahwa khidmah kepada Kyai selamanya akan mendatangkan berkah
meskipun kita tidak bisa membaca kitab atau tidak faham mendalam tentang
agama. Baginya, mengaji kepada Kyai bukan sekedar membuka kitab
menyimak penjelasan Kyai sembari memaknai, lebih dari itu! Bahwa
tindak lampah dan
ahwal Kyai
adalah kitab yang selalu terbuka untuk dibaca selama kita mau membaca,
karena tidak ada Kyai sejati yang tidak mengamalkan ilmunya dalam
kehidupannya. Mengaji ya ini, ngaji laku, ngaji
ahwal, ngaji
balung. Disebut ngaji balung karena ngaji ini adalah ngaji yang paling
dalam dan ngaji yang paling inti, karena inilah kerangka dasar! Apalah
guna daging tanpa balung? Jadi, meskipun secara dhohir Wak Turi tidak
banyak mengikuti pengajian-pengajian kitab, tapi secara batin diam-diam
ia mengamati secara mendalam dan mengamalkan apa yang nampak dari Abah
setiap kali beliau menjejak, apa yang terlihat setiap kali beliau
memberi isyarat. Bukankah العالم يعلم بالإشارة? Tiada yang mampu
memahami isyarat kecuali orang-orang yang tahu dan mengerti. Barangkali
inilah tafsir mimpi Wak Turi yang tempo hari pernah ia ceritakan kepada
saya. Dalam mimpinya, ia melihat orang-orang berlari-lari kesana-kemari
berebut tongkat Abah, kemudian ia ditimbali dan dingendikani Abah: “
Wis njarke wae, iko mau palsu, iki lho seng asli gowonen.” (Sudah, biarkan saja. Itu tadi yang palsu. Ini yang asli bawalah).
Sewaktu
Kyai Mahfudz Siddiq Margoyoso wafat (1 Muharram 1435 H), Gus Aam putera
beliau meminta saya mengajak tiga orang untuk bersama-sama khataman
al-Quran sampai tujuh hari-nya wafat beliau. Saya, Wak Turi, Kak Irsyad,
dan Kang Mahfudz. Wak Turi nampaknya tidak enak badan namun ia selalu
merelakan dirinya dan memaksakan untuk
hurmat guru-guru dan
khidmah para
Kyai. Kebiasaanya adalah menyembunyikan rasa sakit meskipun tak
tertahankan agar orang lain tak merasa terbebani atau merasa kasihan.
Sampai terdengar kabar bahwa sakitnya cukup serius, dan Wak Turi
dilarikan ke RSU Soewondo. Ketika sahabat-sahabat menjenguk, ia sering
melempar senyum bahagia, dan kelihatannya memang menyembunyikan sesuatu
yang tidak enak untuk diceritakan. Katanya: “
Ora opo-opo, yo rodo gak penak wae, Alhamdulillah iseh diparingi loro ben ora koyo fir’aun seng gak tahu loro” (Tidak apa-apa, ya cuma tidak enak badan, biar tidak seperti fir’aun yang tak pernah sakit).
Kang
Ridho tiba-tiba sms sahaya katanya ia bermimimpi bertemu sahaya. Kami
berdua dalam mimpi tersebut terlihat sedih menatap langit, ada
lembaran-lembaran putih berterbangan ke langit. Kang Ridho bertanya
kepada sahaya ada apakah, dan sahaya menjawab namun tak begitu jelas
hingga tak terdengar olehnya.
Sore itu, sahaya, Kang Ishom, Kak
Irsyad tengah bersantai-sore (12 Shafar 1435 H). tiba-tiba Lek Nur
Ahyani menelfon, “Wak Turi ninggal”. Ya Allaaah Innaaa lillaaaah Wa
Innaa Ilayhi Raaaji’uuuuun… inikah tafsir mimpi Kang Ridho bahwa kami
terlihat sedih menatap langit, ada lembaran-lembaran putih berterbangan
ke langit? Sebegitu cepatkah? Rasanya baru kemarin sahaya tanyai Wak
Turi katanya sudah mendingan dan sudah pulang ke rumah, sebegitu
cepatkah? Allaaahhh… Wak Turi… Selamat jalan Wak Turi. Kami bersaksi
bahwa engkau orang baik, dan surga bagimu adalah balasan yang paling
laik.
akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi.
akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita. berkata tangan kita
tentang apa yang dilakukannya. berkata kaki kita kemana saja ia
melangkahnya. Ya Allaaaah... Innalillaaaah... Wa innaaa ilayhi
raaji'uuun...
اللهمّ اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه، اللهمّ اجعل الجنة مثواه، اللهمّ أكرم نزله ووسع مدخله ونور قبره
Oleh : Sahal Mahfudz