AWWALAN

Jumat, 23 Agustus 2013

OBAT PENGHILANG WAS-WAS DAN MALAS BERIBADAH

Seseorang mengadu kepada hb.ahmad bin hasan al-atthos ra terkadang datangnya rasa was-was, sumpek dll, lalu beliau berkata : jika datang was-was, sumpek dll maka bacalah :
سبوح قدوس رب الملائكة والروح
Minimal sekali, tiga dan paling banyak 30kali dan beliau berkata : tidak lebih dari 30kali kecuali rasa was-was dll hilang keseluruhan,
Ada orang lain yg mengadu tentang kerasnya hati dan beratnya melakukan ibadah lalu beliau memerintahkan untuk merutini ayat ini pagi & sore 100kali :
هو لله الذى ﻵ إله إلا هو علم الغيب والشهدة هو الرحمن الرحيم

KISAH SEORANG PEMUDA MEMBAKAR JARI-JEMARINYA AGAR TIDAK MELAKUKAN PERBUATAN ZINA


sebuah Kisah yang sangat mengharukan, mengandung nasihat dan pelajaran untuk Takut kepada Allah dan ingat akan api neraka di akhirat kelak.

ada seorang pemuda bekerja di sebuah toko, setiap hari melintas seorang Gadis pengembala kambing yang berparas cantik, setiap wanita pengembala itu melintas pemuda ini selalu mengamati nya. sehingga hatinya terpaut suka kepada gadis pengembala tersebut. suatu hari datanglah hujan lebat, Gadis pengembala itu menuju ke toko, sebab ia tidak tau harus pergi kemana kecuali sebuah toko yang masih buka.
Pemuda itu pun mempersilahkan nya, masuk lah, Kata pemuda itu, maka masuklah Gadis itu beserta dengan kambing nya. dan tidak ada orang lain lagi kecuali Pemuda itu.

Nafsu pemuda itu berbisik, sekarang waktunya, memperoleh apa yang kamu inginkan, Gadis itu lari dari hujan, Tutup dan kunci pintu Toko lalu lakukan apa yang kamu inginkan.
Namun pemuda ini masih punya Akal, dan di depan nya terdapat lampu Api, ia berkata, saya sekarang memang bisa melakukan apa saja, tapi apa yang dapat mengeluarkan ku dari api neraka di akhirat kelak? sedang Nabi Alaihisshalatu wassalam bersabda.

ما من أعظم عند الله من نطفة يضعها رجل في رحمٍ لا يحل له

Tidak ada dosa yang lebih besar Bagi Allah daripada meletakkan mani pada kemaluan yang tidak halal baginya

manakala keinginan Syahwat pemuda itu mempengaruhi jiwanya, ia berkata, Aku akan masukkan jariku ke Lampu api ini, jika bisa bertahan di dalam api ini, maka boleh bertahanlah, tapi jika ia tidak bisa bertahan maka Api neraka lebih dahsyat lagi panasnya. kemudian ia masukkan jarinya kedalam api, jarinya terbakar dan ia berteriak. sedang anak gadis itu melihat ke arah pemuda itu ia tidak tau apa yang membuat pemuda itu membakar jarinya, kemudian pemuda itu berhenti sejenak, tiba-tiba nafsunya menggoda lagi, kesempatan buat kamu, seorang gadis datang kepadamu dan tidak ada siapa-siapa lagi di sekitarmu. pemuda itu berkata kepada dirinya, Tidak, di sisiku Ada Allah, ada malaikat, dan api ada di sisiku, ayo coba lagi hingga ia meletakkan tangan nya lagi kedalam api dan terbakar.
Hujan sudah reda, dan si gadis berpamitan keluar dan pergi. sedang masyarakat dan keluarga nya mencari nya kemana-mana, Keluarganya menegur "kemana engkau setan perempuan ??" (mereka berkata seperti ini Karena takut terjadi apa-apa kepadanya)"
si gadis itu menjawab : demi Allah aku masuk ke sebuah Toko. di dalam Toko ada seorang pemuda saya lihat ia membakar tangan nya, dan aku tidak Tahu kenapa ia membakar tangan nya. keluarga gadis itu bertanya lagi, ceritakan kepada kami ciri-ciri Toko nya? kemudian ia menceritakan ciri-ciri tokonya.
keesokan paginya, Ayah gadis itu pergi ke arah pemuda untuk membeli suatu keperluan. ia terlihat Tangan pemuda itu di bungkus kain.
ayah gadis itu bertanya, kenapa kau bungkus tangan mu? coba perlihatkan kepadaku, kemudian ia perlihatkan kepadanya. jari-jarimu yang ini terbakar, lalu kenapa jari mu yang lain tidak terbakar ? pemuda itu menceritakan kisah dari awal sampai akhir, lelaki itu berkata : Aku adalah ayah dari gadis yang singgah ke tokomu semalam, maka Aku nikahkan engkau dengan anak gadisku secara halal lagi baik.
________________________________

Wahai saudara-saudara islam, Di manakah kita, Kita berada di sebuah Zaman di mana kebanyakan Kaum muslimin terperangkap lemah nya Iman kepada Tuhan nya, melakukan perbuatan Maksiat secara terang-terangan, bersikap Sombong dan tidak punya Rasa malu kepada Allah sedikitpun. melakukan perbuatan keji, Zina, membuka Aurat, Melakukan perbuatan Mungkar di jalanan dan Klub.

Mereka mendapat Laknat dari Allah, tertolak dari rahmat Allah, Hina dan nista, dan di akhirat siksa yang teramat pedih, mereka akan datang di hari kiamat sedang kemaluan nya menyala-nyala dari api neraka.
semuga Allah melindungi kita dari mereka dan menyelamatkan kita dari api neraka.

Kamis, 22 Agustus 2013

Filosofi Hidup Orang Jawa dan Pengertiannya

  Masyarakat Jawa dikenal memiliki prinsip hidup yang demikian luhur. Meskipun ada sebagian orang yang beranggapan nilai-nilai luhur tersebut mulai luntur, namun tetap saja kita tidak bisa menutup mata akan pentingnya filosofi hidup tersebut. Pada akhirnya, kalaupun anggapan pudarnya filosofi tersebut benar adanya, tiada siapapun yang bisa disalahkan selain diri kita sendiri.

  Berikut adalah sepuluh filosofi hidup masyarakat Jawa dan pengertian . Semoga bisa menjadi bahan perenungan kita semua. Terutama penyalin pribadi--walaupun, jujur saja, penyalin sendiri bukanlah orang Jawa... :


1] Urip Iku Urup

Maksudnya: hidup itu menyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

2] Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

3] Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

4] Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
Berjuang tanpa perlu membawa massa dan bala tentara. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan orang lain. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa didasari kebendaan.

5] Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.

6] Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
Jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut-kejut. Jangan mudah ngambeg, jangan manja.


7] Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman

Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

8] Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

9] Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah. Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

10] Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.

Kamis, 15 Agustus 2013

SYAIR ARAB TENTANG KEMERDEKAAN INDONESIA

Syair Habib Idrus bin Salim Aljufri (GURU TUA) ketika merespon detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945:

راية العز رفرفي في سمآء * أرضها وجبالها خضرآء
Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa * daratan dan gunung-gunungnya hijau

إن يوم طلوعها يوم فخر * عظمته الأبآء والأبنآء
Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan * orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya

كل عام يكون لليوم ذكرى * يظهر الشكر فيها والثنآء
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan * muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya

كل أمة لها رمز عز * ورمز عزنا الحمراء والبيضآء
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan * dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih

يا سوكارنو حييت فينا سعيدا * بالدواء منك زال عنا الدآء
Wahai Sukarno! Engkau telah jadikan hidup kami bahagia * dengan obatmu telah hilang penyakit kami

أيها الرئيس المبارك فينا * عندك اليوم للورى الكميآء
Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami * engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat

باليراع وبالسياسة فقتم * ونصرتم بذا جائت الأنبآء
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul * telah datang berita engkau menang dengannya

لا تبالوا بأنفس وبنين * في سبيل الأوطان نعم الفدآء
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak * demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu

خذ إلى الأمام للمعالي بأيدي * سبعين مليونا أنت والزعمآء
Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan * tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin

فستلقى من الرعايا قبولا * وسماعا لما تقوله الرؤسآء
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan * dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin

واعمروا للبلاد حسا ومعنى * وبرهنوا للملا أنكم أكفآء
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual * buktikan kepada masyarakat bahwa kamu mampu

أيد الله ملككم وكفاكم * كل شر تحوكه الأعدآء
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu * dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh

Jumat, 26 Juli 2013

Akhlak Nabi Muhammad SAW



  Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui sayyidina Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Nabi Muhammad saw !". sayyidina Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui sayyidina Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, sayyidina Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah sayyidina Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula sayyidina Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Nabi Muhammad saw. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui  sayyidina Ali. sayyidina Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." sayyidina Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui sayyidah Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Nabi Muhammad saw itu Al-Qur'an). Seakan-akan sayyidah Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. sayyidah Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun[23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke sayyidah Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, "ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, sayyidah Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati sayyidah Aisyah ketika menjelang subuh sayyidah Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. sayyidah Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. sayyidah Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap sayyidina Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. sayyidina Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. sayyidina Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang sayyidina Umar, Rasul pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan."

Tentang sayyidina Utsman, Rasul sangat menghargai sayyidina Ustman karena itu sayyidina Utsman menikahi dua putri nabi, hingga sayyidina Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai sayyidina Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan sayyidina Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, sayyidina Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata sayyidina Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." sayyidina Abu Bakar berkata ke sayyidina Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," sayyidina Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu sayyidina Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." sayyidina Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu sayyidina Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"
Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya. 

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya sayyidina Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh sayyidina Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. sayyidah Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah sayyidina Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, sayyidah Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat  tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, "lakukanlah!" Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah." Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah..... 

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "benar ya Rasul!"
 
Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah."Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah"