Kamis, 15 Agustus 2013
Jumat, 26 Juli 2013
Akhlak Nabi Muhammad SAW
Setelah
Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam;
antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para
sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui sayyidina Umar dan dia
meminta, "Ceritakan padaku akhlak Nabi Muhammad saw !". sayyidina Umar menangis
mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab
badui tersebut menemui sayyidina Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, sayyidina
Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat
menyuruh orang tersebut menjumpai sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Orang
Badui ini mulai heran. Bukankah sayyidina Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi,
begitu pula sayyidina Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak
sanggup menceritakan akhlak Nabi Muhammad saw. Dengan berharap-harap cemas,
Badui ini menemui sayyidina Ali. sayyidina Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan
padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin
aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." sayyidina Ali menjawab,
"Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah
berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu
bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman
bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]:
4)"
Badui
ini lalu menemui sayyidah Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa
"Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an
(Akhlaknya Nabi Muhammad saw itu Al-Qur'an). Seakan-akan sayyidah Aisyah ingin
mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas,
bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke
seluruh kandungan Qur'an. sayyidah Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca
dan menyimak QS Al-Mu'minun[23]: 1-11.
Bagi
para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan
Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air
mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka.
Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah
dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari
kita kembali ke sayyidah Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya
menjawab, "ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, sayyidah Aisyah
baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku
sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami
sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap
Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang
isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang,
kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang
utusan Allah.
Nabi
Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati sayyidah Aisyah ketika menjelang subuh
sayyidah Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. sayyidah Aisyah keluar membuka pintu
rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu.
sayyidah Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad
menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu
sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan
pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita
terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap
isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para
sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut
kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Buat
sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat
datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat
tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah
kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak
cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat
tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan
air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan
tetapi mencium sorban Nabi.
Senangkah
kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba
melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita.
Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat
bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan
melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan
untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang
Mulia.
Nabi
Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab
hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama.
Terhadap sayyidina Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. sayyidina Abu Bakar-lah yang menemani Rasul
ketika hijrah. sayyidina Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit.
Tentang sayyidina Umar, Rasul pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila
Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam
riwayat lain disebutkan, "Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu
gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat
bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu
pengetahuan."
Tentang
sayyidina Utsman, Rasul sangat menghargai sayyidina Ustman karena itu sayyidina Utsman menikahi dua putri
nabi, hingga sayyidina Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai sayyidina Ali,
Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang
menyebutkan keutamaan sayyidina Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah
pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang
munafik."
Lihatlah
diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan
kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk
membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita
belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti
sunnah Nabi.
Saya
pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat
menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi
dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi
Muhammad, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja
sangat menghormati beliau.
Para
sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi.
Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk
pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, sayyidina Abu Bakar berkata:
"Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata sayyidina Umar,
"Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." sayyidina Abu Bakar berkata ke sayyidina Umar,
"Kamu hanya ingin membantah aku saja," sayyidina Umar menjawab, "Aku tidak
bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar
makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah.
Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu
mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara
kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak
menyadarinya (al-hujurat 1-2)
Setelah
mendengar teguran itu sayyidina Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah,
sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang
saudara yang membisikkan rahasia." sayyidina Umar juga berbicara kepada Nabi dengan
suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu sayyidina Umar banyak
sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat
Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan
Nabi.
Dalam
satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy,
Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi, "Wahai kemenakanku, kau datang
membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki
harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami
muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan
obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"
Nabi
mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau
membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya,
"Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah.
Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada
ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai
menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa
ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan
sabar mendegarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak
nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis
ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si
musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya
membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita
bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam
pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya
Allah!
Ketika
Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta
janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah
perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya
tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan
hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di
Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan
kedatangannya. Apa jawab Nabi? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku
telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis
keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan
bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji
adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana
kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana
perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Dalam
suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat,
"Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang
mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku
pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian,
ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang
tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di
saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak
tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari
ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata
seperti itu. Kabarnya sayyidina Umar langsung berdiri dan siap "membereskan"
orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh sayyidina Bilal mengambil tongkat ke rumah
Nabi. sayyidah Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta
tongkat. Setelah sayyidina Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, sayyidah Aisyah pun semakin heran,
mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul
berikan pada mereka.
Rasul
memberikan tongkat tersebut pada sahabat
itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi
berkata, "lakukanlah!" Detik-detik berikutnya menjadi sangat
menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi
perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku
hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku
ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah." Seketika itu juga
terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. sahabat tersebut tahu,
bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa
ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia
ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.
Suatu
pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya
merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang
kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada
orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti
menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah
miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu
billah.....
Nabi
Muhammad ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan
sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan
dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari
pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi,
perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para
sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan,
"Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah
telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian,
bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku
sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu,
para sahabat menjawab, "benar ya Rasul!"
Rasul
pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah
saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi meminta
kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya
pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah."Ya Allah
saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu
dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang
indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan
nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin
ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah
saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah"
Senin, 22 Juli 2013
HENDRA DAN GUS MIEK (kh. hamim djazuli)
Cara
mengentaskan saudara-saudara yang terjerembab di lembah hitam memang
variatif. Ada yang memilih jalur kepruk dan anarkisme sembari menyerobot
alih tugas aparat, ada yang memegang “kepala ular” alias pimpinan
komplotan dengan cara elegan dan memanusiakan manusia sebagaimana yang
dilakukan oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Habib Syech bin Abdul Qadir
Assegaf, dan ada pula yang masuk ke “sarang harimau” lalu
menjinakkannya karena sudah memiliki kemampuan “pawang”. Metode ketiga
ini dilakukan oleh Allah Yarham KH. Chamim Djazuli alias Gus Miek.
Cara kedua dan ketiga, saya kira, lebih manusiawi, elegan, dan
berkelas. Inilah alasan mengapa saya selalu takjub pada dengan caranya
yang khas memanusiakan manusia. Mereka bekerja dalam sunyi, menawarkan
alternatif, tanpa slogan bombastis, tanpa parade ekstravagan, tanpa
cacimaki, dan tetap realistis memandang realitas. Mereka berusaha
menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Inilah yang, bagi
saya pribadi, sebuah cara yang ekselen alias ahsan.
Dalam
coretan ini, saya menulis sekilas kiprah Gus Miek, salah satu kiai yang
dengan caranya yang khas, khariqul adah, dan kontroversial, berusaha
merangkul manusia-manusia yang dinista, dipinggirkan, dan dihinakan.
Kisah seputar kelihaian Gus Miek mengentaskan manusia dari jurang
kekelaman, penulis dapatkan dari seorang jamaah Dzikrul Ghafilin, sebut
saja namanya Hendra, asal Malang. Ia malang melintang di dunia malam
Surabaya pada era 1980-an. Pria ini disadarkan Gus Miek di coffe shop
Hotel Elmi Surabaya. "Di sudut keremangan, saya melihat sosok Gus Miek,
yang pakai topi koboi. Aneh, wajahnya bercahaya. Saya dekati dia, ada
senyum yang menentramkan hati. Uniknya, dia tahu seluk beluk diri saya
dan semua perjalanan hidup saya. Setelah ngobrol santai, dia hanya
bilang singkat, bahwa ibu saya—yang rajin ibadah--sekarang menangis di
alam kubur saat melihat kondisi saya. Gus Mik menitipkan dari salam ibu
buat saya," kata Hendra pada penulis di warung kopi Makam Sunan Ampel,
Jumat dinihari, 6 Maret 2009.
Semenjak pertemuan dengan Gus
Miek itu, Hendra—yang tubuhnya dirajah tato--- merasa ingin merindukan
masjid. Saat mendengar info keberadaan Gus Miek, saat itu pula ia
mengejar. "Kalau beruntung ya ketemu, salaman, minta doa sama beliau,"
kata pria yang kini menekuni usaha perkebunan ini. Sampai saat ini,
Hendra mengaku rajin mengikuti jamaah Dzikrul Ghafilin di manapun.
Setiap habis shalat, ia kirim fatihah dan kirim doa buat kedua orang
tuanya, ini sesuai petunjuk Gus Miek. "Tentu saya juga berdoa dan kirim
fatihah buat beliau (Gus Miek)," lanjutnya sambil menghisap kretek
kesukaannya.
Dalam perbincangan selama dua jam itu, Hendra
banyak berkisah tentang teman-temannya yang insaf gara-gara bertemu Gus
Miek. "Kami merasa benar-benar dirangkul oleh Gus Miek, dialah yang
mengajarkan kami makna kehidupan. Tentang pentingnya silaturrahmi,
keutamaan membaca al-Qur'an, dan banyak lagi," terang pria berputra tiga
ini. Ia menganggap gurunya sebagai tangan yang menariknya agar tak
tenggelam dalam lumpur kemaksiatan. Tak lupa, ia juga menyuguhkan
beragam kisah keramat tentang guru yang dicintainya itu.
Sebelum pamit, Hendra nitip harapan. "Seandainya para kiai sekarang
berani bertaruh kehormatan, harga diri, dan nama baik untuk berdakwah di
tempat-tempat maksiat seperti Gus Miek, saya ragu para kiai akan
sanggup," kata Hendra.
Matanya mengembun. Saya hanya tersenyum mendengarnya.
---
Kisah ini pernah saya muat dalam buku “Cermin Bening Dari Pesantren: Potret Keteladanan Para Kiai" (Surabaya: Khalista, 2009)
--
Allahummaj'alid dunya tahta aidina wala taj'alha fi qulubina...
KH.HAMIM DJAZULI
KH.HAMIM DJAZULI (GUS MIEK KYAI NYELENEH)
KH HAMIM TOHARI DJAZULI ATAU AKRAB DENGAN PANGGILAN GUS MIEK LAHIR PADA 17 AGUSTUS 1940,BELIAU ADALAH PUTRA KH. JAZULI UTSMAN (SEORANG ULAMA SUFI DAN AHLI TARIKAT PENDIRI PON-PES AL FALAH MOJO KEDIRI),GUS MIEK SALAH-SATU TOKOH NAHDLATUL ULAMA (NU) DAN PEJUANG ISLAM YANG MASYHUR DI TANAH JAWA DAN MEMILIKI IKATAN DARAH KUAT DENGAN BERBAGAI TOKOH ISLAM TERNAMA, KHUSUSNYA DI JAWA TIMUR. MAKA WAJAR, JIKA GUS MIEK DIKATAKAN PEJUANG AGAMA YANG TANGGUH DAN MEMILIKI KEMAMPUAN YANG TERKADANG SULIT DIJANGKAU AKAL.
SELAIN MENJADI PEJUANG ISLAM YANG GIGIH, DAN PENGIKUT HUKUM AGAMA YANG SETIA DAN PATUH, GUS MIEK MEMILIKI SPRITUALITAS ATAU DERAJAT KEROHANIAN YANG MEMPERKAYA SIKAP, TAAT, DAN PATUH TERHADAP TUHAN. NAMUN, GUS MIEK TIDAK MELUPAKAN KEPENTINGAN MANUSIA ATAU INTRAKSI SOSIAL (HABLUM MINALLAH WA HABLUM MINANNAS). HAL ITU DILAKUKAN KARENA GUS MIEK MEMPUNYAI HUBUNGAN DAN PERGAULAN YANG ERAT DENGAN (ALM) KH. HAMID PASURUAN, DAN KH. ACHMAD SIDDIQ, SERTA MELALUI KETERIKATANNYA PADA RITUAL ”DZIKRUL GHAFILIN” (PENGINGAT MEREKA YANG LUPA). GERAKAN-GERAKAN SPRITUAL GUS MIEK INILAH, TELAH MENJADI BUDAYA DI KALANGAN NAHDLIYIN (SEBUTAN UNTUK WARGA NU), SEPERTI MELAKUKAN ZIARAH KE MAKAM-MAKAM PARA WALI YANG ADA DI JAWA MAUPUN DI LUAR JAWA.HAL TERPENTING LAIN UNTUK DIKETAHUI JUGA BAHWA AMALAN GUS MIEK SANGATLAH SEDERHANA DALAM PRAKTIKNYA. JUGA SANGAT SEDERHANA DALAM MENJANJIKAN APA YANG HENDAK DIDAPAT OLEH PARA PENGAMALNYA, YAKNI BERKUMPUL DENGAN PARA WALI DAN ORANG-ORANG SALEH, BAIK DI DUNIA MAUPUN AKHIRAT.
AYAH GUS MIK KH.ACHMAD DJAZULI USMAN
GUS MIEK SEORANG HAFIZH (PENGHAPAL) AL-QURAN. KARENA, BAGI GUS MIEK, AL-QURAN ADALAH TEMPAT MENGADUKAN SEGALA PERMASALAHAN HIDUPNYA YANG TIDAK BISA DIMENGERTI ORANG LAIN. DENGAN MENDENGARKAN DAN MEMBACA AL-QURAN, GUS MIEK MERASAKAN KETENANGAN DAN TAMPAK DIRINYA BERDIALOG DENGAN TUHAN ,BELIAUPUN MEMBENTUK SEMA’AN ALQURAN DAN JAMA’AH DZIKRUL GHOFILIN.
GUS MIEK SELAIN DIKENAL SEBAGAI SEORANG ULAMA BESAR JUGA DIKENAL SEBAGAI ORANG YANG NYELENEH BELIAU LEBIH MENYUKAI DA’WAH DI KERUMUNAN ORANG YANG MELAKUKAN MAKSIAT SEPERTI DISCOTIQ ,CLUB MALAM DIBANDINGKAN DENGAN MENJADI SEORANG KYAI YANG TINGGAL DI PESANTREN YANG MENGAJARKAN SANTRINYA KITAB KUNING. HAMPIR TIAP MALAM BELIAU MENYUSURI JALAN-JALAN DI JAWA TIMUR KELUAR MASUK CLUB MALAM, BAHKAN NIMBRUNG DENGAN TUKANG BECAK, PENJUAL KOPI DI PINGGIRAN JALAN HANYA UNTUK MEMBERIKAN SEDIKIT PENCERAHAN KEPADA MEREKA YANG SEDANG DALAM KEGELAPAN. AJARAN-AJARAN BELIAU YANG TERKENAL ADALAH SULUK JALAN TERABAS ATAU DALAM BAHASA INDONESIANYA PEMIKIRAN JALAN PINTAS.
PERNAH DI CERITAKAN SUATU KETIKA GUS MIEK PERGI KE DISCOTIQ DAN DISANA BERTEMU DENGAN PENGUNJUNG YANG SEDANG ASYIK MENENGGAK MINUMAN KERAS, GUS MIEK MENGHAMPIRI MEREKA DAN MENGAMBIL SEBOTOL MINUMAN KERAS LALU MEMASUKKANNYA KE MULUT GUS MIEK SALAH SATU DARI MEREKA MENGENALI GUS MIEK DAN BERTANYA KEPADA GUS MIEK.” GUS KENAPA SAMPEYAN IKUT MINUM BERSAMA KAMI ? SAMPEYANKAN TAHU INI MINUMAN KERAS YANG DIHARAMKAN OLEH AGAMA ? LALU GUS MIEK MENJAWAB “AKU TIDAK MEMINUMNYA …..!! AKU HANYA MEMBUANG MINUMAN ITU KELAUT…!HAL INI MEMBUAT MEREKA BERTANYA-TANYA, PADAHAL SUDAH JELAS TADI GUS MIEK MEMINUM MINUMAN
KERAS TERSEBUT. DILIPUTI RASA KEANEHAN ,GUS MIEK ANGKAT BICARA “SAMPEYAN SEMUA GA PERCAYA KALO AKU TIDAK MEMINUMNYA TAPI MEMBUANGNYA KELAUT..? LALU GUS MIEK MEMBUKA LEBAR MULUTNYA DAN MEREKA SEMUA TERPERANJAT KAGET DIDALAM MULUT GUS MIEK TERLIHAT LAUT YANG BERGELOMBANG DAN TERNYATA BENAR MINUMAN KERAS TERSEBUT DIBUANG KELAUT. DAN SAAT ITU JUGA MEREKA DIBERI HIDAYAH OLEH ALLOH SWT UNTUK BERTAUBAT DAN MENINGGALKAN MINUM-MINUMAN KERAS YANG DILARANG OLEH AGAMA. ITULAH SALAH SALAH SATU KAROMAH KEWALIYAN YANG DIBERIKAN ALLOH KEPADA GUS MIEK.
JIKA SEDANG JALAN-JALAN ATAU KELUAR, GUS MIEK SERING KALI MENGENAKAN CELANA JEANS DAN KAOS OBLONG. TIDAK LUPA, BELIAU SELALU MENGENAKAN KACA MATA HITAM LANTARAN LANTARAN BELIAU SERING MENANGIS JIKA MELIHAT SESEORANG YANG “MASA DEPANNYA” SURAM DAN TAK BERUNTUNG DI AKHERAT KELAK.
KETIKA BELIAU BERDA’WAK DI SEMARANG TEPATNYA DI NIAC DI PELABUHAN TANJUNG MAS.NIAC ADALAH SURGA PERJUDIAN BAGI PARA CUKONG-CUKONG BESAR BAIK DARI PRIBUMI MAUPUN KETURUNAN ,GUS MIEK YANG MASUK DENGAN SEGALA KELEBIHANNYA MAMPU MEMENANGI SETIAP PERMAINAN, SEHINGGA PARA CUKONG-CUKONG ITU MENGALAMI KEKALAHAN YANG SANGAT BESAR. NIAC PUN YANG SEMULA MENJADI SURGA PERJUDIAN MENJADI NERAKA YANG SANGAT MENAKUTKAN
SATU CONTOH LAGI KETIKA GUS MIEK BERJALAN-JALAN KE SURABAYA, KETIKA TIBA DI SEBUAH CLUB MALAM GUS MIEK MASUK KEDALAM CLUB YANG DI PENUHI DENGAN PEREMPUAN-PEREMPUAN NAKAL, LALU GUS MIEK LANGSUNG MENUJU WATRIES (PELAYAN MINUMAN) BELIAU MENEPUK PUNDAK PEREMPUAN TERSEBUT SAMBIL MENIUPKAN ASAP ROKOK TEPAT DI WAJAHNYA, PEREMPUAN ITUPUN MUNDUR TAPI TERUS DI KEJAR OLEH GUS MIEK SAMBIL TETAP MENIUPKAN ASAP ROKOK DIWAJAH PEREMPUAN TERSEBUT. PEREMPUAN TERSEBUT MUNDUR HINGGA TERBARING DI KAMAR DENGAN PENUH KETAKUTAN, SETELAH KEJADIAN TERSEBUT PEREMPUAN ITU TIDAK TAMPAK LAGI DI CLUB MALAM ITU.
PERNAH SUATU KETIKA GUS FARID (ANAK KH.AHAMAD SIDDIQ YANG SERING MENEMANI GUS MIEK) MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SERING MENGGANJAL DI HATINYA, PERTAMA BAGAIMANA PERASAAN GUS MIEK TENTANG WANITA ? “AKU SETIAP KALI BERTEMU WANITA WALAUPUN SECANTIK APAPUN DIA DALAM PANDANGAN MATAKU YANG TERLIHAT HANYA DARAH DAN TULANG SAJA JADI JALAN UNTUK SYAHWAT TIDAK ADA”JAWAB GUS MIEK.
PERTANYAAN KEDUA GUS FARID MENAYAKAN TENTANG KEBIASAAN GUS MIEK MEMAKAI KACA MATA HITAM BAIK ITU DIJALAN MAUPUN SAAT BERTEMU DENGAN TAMU…”APABILA AKU BERTEMU ORANG DIJALAN ATAU TAMU AKU DIBERI PENGETAHUAAN TENTANG PERJALANAN HIDUPNYA SAMPAI MATI. APABILA AKU BERTEMU DENGAN SESEORANG YANG NASIBNYA BURUK MAKA AKU MENANGIS, MAKA AKU MEMAKAI KACA MATA HITAM AGAR ORANG TIDAK TAHU BAHWA AKU SEDANG MENAGIS “JAWAB GUS MIEK
ADANYA SISTEM DA’WAK YANG DILAKUKAN GUS MIEK TIDAK BISA DI CONTOH BEGITU SAJA KARENA RESIKONYA SANGAT BERAT BAGI MEREKA YANG ALIM PUN SEKALIBER KH.ABDUL HAMID (PASURUAN) MENGAKU TIDAK SANGGUP MELAKUKAN DA’WAK SEPERTI YANG DILAKUKAN OLEH GUS MIEK PADAHAL KH.ABDUL HAMID JUGA SEORANG WALIYALLOH.
TEPAT TANGGAL 5 JUNI 1993 GUS MIEK MENGHEMBUSKAN NAPASNYA YANG TERAKHIR DI RUMAH SAKIT BUDI MULYA SURABAYA (SEKARANG SILOAM). KYAI YANG NYELENEH DAN UNIK AKHIRNYA MENINGGALKAN DUNIA DAN MENUJU KEHIDUPAN YANG LEBIH ABADI DAN BERTEMU DENGAN TUHANNYA YANG SELAMA INI BELIAU RINDUKAN.
http:// sachrony.wordpress.com/
dari: HABIB AHMAD BIN FAQIH BASYAIBAN
KH HAMIM TOHARI DJAZULI ATAU AKRAB DENGAN PANGGILAN GUS MIEK LAHIR PADA 17 AGUSTUS 1940,BELIAU ADALAH PUTRA KH. JAZULI UTSMAN (SEORANG ULAMA SUFI DAN AHLI TARIKAT PENDIRI PON-PES AL FALAH MOJO KEDIRI),GUS MIEK SALAH-SATU TOKOH NAHDLATUL ULAMA (NU) DAN PEJUANG ISLAM YANG MASYHUR DI TANAH JAWA DAN MEMILIKI IKATAN DARAH KUAT DENGAN BERBAGAI TOKOH ISLAM TERNAMA, KHUSUSNYA DI JAWA TIMUR. MAKA WAJAR, JIKA GUS MIEK DIKATAKAN PEJUANG AGAMA YANG TANGGUH DAN MEMILIKI KEMAMPUAN YANG TERKADANG SULIT DIJANGKAU AKAL.
SELAIN MENJADI PEJUANG ISLAM YANG GIGIH, DAN PENGIKUT HUKUM AGAMA YANG SETIA DAN PATUH, GUS MIEK MEMILIKI SPRITUALITAS ATAU DERAJAT KEROHANIAN YANG MEMPERKAYA SIKAP, TAAT, DAN PATUH TERHADAP TUHAN. NAMUN, GUS MIEK TIDAK MELUPAKAN KEPENTINGAN MANUSIA ATAU INTRAKSI SOSIAL (HABLUM MINALLAH WA HABLUM MINANNAS). HAL ITU DILAKUKAN KARENA GUS MIEK MEMPUNYAI HUBUNGAN DAN PERGAULAN YANG ERAT DENGAN (ALM) KH. HAMID PASURUAN, DAN KH. ACHMAD SIDDIQ, SERTA MELALUI KETERIKATANNYA PADA RITUAL ”DZIKRUL GHAFILIN” (PENGINGAT MEREKA YANG LUPA). GERAKAN-GERAKAN SPRITUAL GUS MIEK INILAH, TELAH MENJADI BUDAYA DI KALANGAN NAHDLIYIN (SEBUTAN UNTUK WARGA NU), SEPERTI MELAKUKAN ZIARAH KE MAKAM-MAKAM PARA WALI YANG ADA DI JAWA MAUPUN DI LUAR JAWA.HAL TERPENTING LAIN UNTUK DIKETAHUI JUGA BAHWA AMALAN GUS MIEK SANGATLAH SEDERHANA DALAM PRAKTIKNYA. JUGA SANGAT SEDERHANA DALAM MENJANJIKAN APA YANG HENDAK DIDAPAT OLEH PARA PENGAMALNYA, YAKNI BERKUMPUL DENGAN PARA WALI DAN ORANG-ORANG SALEH, BAIK DI DUNIA MAUPUN AKHIRAT.
AYAH GUS MIK KH.ACHMAD DJAZULI USMAN
GUS MIEK SEORANG HAFIZH (PENGHAPAL) AL-QURAN. KARENA, BAGI GUS MIEK, AL-QURAN ADALAH TEMPAT MENGADUKAN SEGALA PERMASALAHAN HIDUPNYA YANG TIDAK BISA DIMENGERTI ORANG LAIN. DENGAN MENDENGARKAN DAN MEMBACA AL-QURAN, GUS MIEK MERASAKAN KETENANGAN DAN TAMPAK DIRINYA BERDIALOG DENGAN TUHAN ,BELIAUPUN MEMBENTUK SEMA’AN ALQURAN DAN JAMA’AH DZIKRUL GHOFILIN.
GUS MIEK SELAIN DIKENAL SEBAGAI SEORANG ULAMA BESAR JUGA DIKENAL SEBAGAI ORANG YANG NYELENEH BELIAU LEBIH MENYUKAI DA’WAH DI KERUMUNAN ORANG YANG MELAKUKAN MAKSIAT SEPERTI DISCOTIQ ,CLUB MALAM DIBANDINGKAN DENGAN MENJADI SEORANG KYAI YANG TINGGAL DI PESANTREN YANG MENGAJARKAN SANTRINYA KITAB KUNING. HAMPIR TIAP MALAM BELIAU MENYUSURI JALAN-JALAN DI JAWA TIMUR KELUAR MASUK CLUB MALAM, BAHKAN NIMBRUNG DENGAN TUKANG BECAK, PENJUAL KOPI DI PINGGIRAN JALAN HANYA UNTUK MEMBERIKAN SEDIKIT PENCERAHAN KEPADA MEREKA YANG SEDANG DALAM KEGELAPAN. AJARAN-AJARAN BELIAU YANG TERKENAL ADALAH SULUK JALAN TERABAS ATAU DALAM BAHASA INDONESIANYA PEMIKIRAN JALAN PINTAS.
PERNAH DI CERITAKAN SUATU KETIKA GUS MIEK PERGI KE DISCOTIQ DAN DISANA BERTEMU DENGAN PENGUNJUNG YANG SEDANG ASYIK MENENGGAK MINUMAN KERAS, GUS MIEK MENGHAMPIRI MEREKA DAN MENGAMBIL SEBOTOL MINUMAN KERAS LALU MEMASUKKANNYA KE MULUT GUS MIEK SALAH SATU DARI MEREKA MENGENALI GUS MIEK DAN BERTANYA KEPADA GUS MIEK.” GUS KENAPA SAMPEYAN IKUT MINUM BERSAMA KAMI ? SAMPEYANKAN TAHU INI MINUMAN KERAS YANG DIHARAMKAN OLEH AGAMA ? LALU GUS MIEK MENJAWAB “AKU TIDAK MEMINUMNYA …..!! AKU HANYA MEMBUANG MINUMAN ITU KELAUT…!HAL INI MEMBUAT MEREKA BERTANYA-TANYA, PADAHAL SUDAH JELAS TADI GUS MIEK MEMINUM MINUMAN
KERAS TERSEBUT. DILIPUTI RASA KEANEHAN ,GUS MIEK ANGKAT BICARA “SAMPEYAN SEMUA GA PERCAYA KALO AKU TIDAK MEMINUMNYA TAPI MEMBUANGNYA KELAUT..? LALU GUS MIEK MEMBUKA LEBAR MULUTNYA DAN MEREKA SEMUA TERPERANJAT KAGET DIDALAM MULUT GUS MIEK TERLIHAT LAUT YANG BERGELOMBANG DAN TERNYATA BENAR MINUMAN KERAS TERSEBUT DIBUANG KELAUT. DAN SAAT ITU JUGA MEREKA DIBERI HIDAYAH OLEH ALLOH SWT UNTUK BERTAUBAT DAN MENINGGALKAN MINUM-MINUMAN KERAS YANG DILARANG OLEH AGAMA. ITULAH SALAH SALAH SATU KAROMAH KEWALIYAN YANG DIBERIKAN ALLOH KEPADA GUS MIEK.
JIKA SEDANG JALAN-JALAN ATAU KELUAR, GUS MIEK SERING KALI MENGENAKAN CELANA JEANS DAN KAOS OBLONG. TIDAK LUPA, BELIAU SELALU MENGENAKAN KACA MATA HITAM LANTARAN LANTARAN BELIAU SERING MENANGIS JIKA MELIHAT SESEORANG YANG “MASA DEPANNYA” SURAM DAN TAK BERUNTUNG DI AKHERAT KELAK.
KETIKA BELIAU BERDA’WAK DI SEMARANG TEPATNYA DI NIAC DI PELABUHAN TANJUNG MAS.NIAC ADALAH SURGA PERJUDIAN BAGI PARA CUKONG-CUKONG BESAR BAIK DARI PRIBUMI MAUPUN KETURUNAN ,GUS MIEK YANG MASUK DENGAN SEGALA KELEBIHANNYA MAMPU MEMENANGI SETIAP PERMAINAN, SEHINGGA PARA CUKONG-CUKONG ITU MENGALAMI KEKALAHAN YANG SANGAT BESAR. NIAC PUN YANG SEMULA MENJADI SURGA PERJUDIAN MENJADI NERAKA YANG SANGAT MENAKUTKAN
SATU CONTOH LAGI KETIKA GUS MIEK BERJALAN-JALAN KE SURABAYA, KETIKA TIBA DI SEBUAH CLUB MALAM GUS MIEK MASUK KEDALAM CLUB YANG DI PENUHI DENGAN PEREMPUAN-PEREMPUAN NAKAL, LALU GUS MIEK LANGSUNG MENUJU WATRIES (PELAYAN MINUMAN) BELIAU MENEPUK PUNDAK PEREMPUAN TERSEBUT SAMBIL MENIUPKAN ASAP ROKOK TEPAT DI WAJAHNYA, PEREMPUAN ITUPUN MUNDUR TAPI TERUS DI KEJAR OLEH GUS MIEK SAMBIL TETAP MENIUPKAN ASAP ROKOK DIWAJAH PEREMPUAN TERSEBUT. PEREMPUAN TERSEBUT MUNDUR HINGGA TERBARING DI KAMAR DENGAN PENUH KETAKUTAN, SETELAH KEJADIAN TERSEBUT PEREMPUAN ITU TIDAK TAMPAK LAGI DI CLUB MALAM ITU.
PERNAH SUATU KETIKA GUS FARID (ANAK KH.AHAMAD SIDDIQ YANG SERING MENEMANI GUS MIEK) MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SERING MENGGANJAL DI HATINYA, PERTAMA BAGAIMANA PERASAAN GUS MIEK TENTANG WANITA ? “AKU SETIAP KALI BERTEMU WANITA WALAUPUN SECANTIK APAPUN DIA DALAM PANDANGAN MATAKU YANG TERLIHAT HANYA DARAH DAN TULANG SAJA JADI JALAN UNTUK SYAHWAT TIDAK ADA”JAWAB GUS MIEK.
PERTANYAAN KEDUA GUS FARID MENAYAKAN TENTANG KEBIASAAN GUS MIEK MEMAKAI KACA MATA HITAM BAIK ITU DIJALAN MAUPUN SAAT BERTEMU DENGAN TAMU…”APABILA AKU BERTEMU ORANG DIJALAN ATAU TAMU AKU DIBERI PENGETAHUAAN TENTANG PERJALANAN HIDUPNYA SAMPAI MATI. APABILA AKU BERTEMU DENGAN SESEORANG YANG NASIBNYA BURUK MAKA AKU MENANGIS, MAKA AKU MEMAKAI KACA MATA HITAM AGAR ORANG TIDAK TAHU BAHWA AKU SEDANG MENAGIS “JAWAB GUS MIEK
ADANYA SISTEM DA’WAK YANG DILAKUKAN GUS MIEK TIDAK BISA DI CONTOH BEGITU SAJA KARENA RESIKONYA SANGAT BERAT BAGI MEREKA YANG ALIM PUN SEKALIBER KH.ABDUL HAMID (PASURUAN) MENGAKU TIDAK SANGGUP MELAKUKAN DA’WAK SEPERTI YANG DILAKUKAN OLEH GUS MIEK PADAHAL KH.ABDUL HAMID JUGA SEORANG WALIYALLOH.
TEPAT TANGGAL 5 JUNI 1993 GUS MIEK MENGHEMBUSKAN NAPASNYA YANG TERAKHIR DI RUMAH SAKIT BUDI MULYA SURABAYA (SEKARANG SILOAM). KYAI YANG NYELENEH DAN UNIK AKHIRNYA MENINGGALKAN DUNIA DAN MENUJU KEHIDUPAN YANG LEBIH ABADI DAN BERTEMU DENGAN TUHANNYA YANG SELAMA INI BELIAU RINDUKAN.
http://
dari: HABIB AHMAD BIN FAQIH BASYAIBAN
Ramadhan Karim di Tarim Hadramaut Yaman
Kalo
kita dengar atau baca artikel tentang Yaman, yang terbersit di
pikiranku adalah Habib Umar Hafidh, lalu habib Munzir Al-musawa yang
pernah menjadi santri di Darul Mustofa pimpinan Habib Umar Hafidh. Kali
ini tim Sarkub ingin mengunggkap negeri Yaman (Negara terbanyak para
waliyullahnya di dunia). Kali ini yang akan kami sajikan di sini adalah bagaimana suasana Ramadhan di Tarim Hadramaut, Yaman.
Jika Ramadhan tiba
penduduk tarim yaman disana akan menutup pasar dan toko toko mereka pada
pagi harinya sampai zuhur seakan tak ada kehidupan, selepas zuhur
berlalu sebagian ada yg buka toko, sebagian lagi tetap di masjid mengaji
hingga ashar, selepas ashar barulah aktifitas berlanjut.
Saat magrib datang mereka shalat berjamaah dan bubar kerumah
sebagian hanya buka lalu mengaji di masjid hingga isya dan tarawih,
selepas tarawih baru mereka makan malam.
Di tarim, hadramaut, Yaman ada 4 waktu shalat tarawih yang bisa diikuti semuanya. Tarawih disana dimulai selepas isya kira kira jam 19.30, nanti jam 21.30 ada lagi masjid lainnya yg melakukan tarawih, nanti jam 23.30 ada lagi, jam 01.30 ada lagi, jam 02.30 ada lagi. Dalam semalam kita bisa melakukan tarawih sebanyak 20 x 3 atau 4 kali jika sanggup, bisa 80 rakaat, tapi biasanya kalau guru mulia kita Al Habib Umar bin Hafidz hanya ikut sebanyak 3 x, jadi 60 rakaat. Beliau biasanya ikut 3X shalat tarawih setiap malamnya. Shalat tarawih yang pertama 2 juz, kemudian ikut di Masjid Ba’alawi 20 rakaat, ikut lagi di Masjid Muhdhor 20 rakaat, 60 rakaat setiap malam.
Subuh mereka dimasjid dan membaca Alqur'an hingga matahari terbit (Isyraq, sekita 1.50 menit setelah adzan subuh)., lalu pulang dan istirahat.
Sabda Rasulullah SAW. :
أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ
“ Datang kepada kalian penduduk Yaman mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah penduduk Yaman dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )
Di tarim, hadramaut, Yaman ada 4 waktu shalat tarawih yang bisa diikuti semuanya. Tarawih disana dimulai selepas isya kira kira jam 19.30, nanti jam 21.30 ada lagi masjid lainnya yg melakukan tarawih, nanti jam 23.30 ada lagi, jam 01.30 ada lagi, jam 02.30 ada lagi. Dalam semalam kita bisa melakukan tarawih sebanyak 20 x 3 atau 4 kali jika sanggup, bisa 80 rakaat, tapi biasanya kalau guru mulia kita Al Habib Umar bin Hafidz hanya ikut sebanyak 3 x, jadi 60 rakaat. Beliau biasanya ikut 3X shalat tarawih setiap malamnya. Shalat tarawih yang pertama 2 juz, kemudian ikut di Masjid Ba’alawi 20 rakaat, ikut lagi di Masjid Muhdhor 20 rakaat, 60 rakaat setiap malam.
Subuh mereka dimasjid dan membaca Alqur'an hingga matahari terbit (Isyraq, sekita 1.50 menit setelah adzan subuh)., lalu pulang dan istirahat.
Sabda Rasulullah SAW. :
أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ
“ Datang kepada kalian penduduk Yaman mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah penduduk Yaman dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )
Sumber : https://www.facebook.com/surabayahubbunnabi
Simak di: http://www.sarkub.com/2013/ramadhan-karim-di-tarim-hadramaut-yaman/#ixzz2ZrDQVRGS
Salam Aswaja by Tim Menyan United
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook
Sabtu, 18 Mei 2013
PENTINGNYA RASA CINTA
Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.
“Habib, saya mau pulang saja.”
“Lho, kenapa?” tanya beliau.
“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.”
“Jangan dulu. Sabar.”
“Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.”
“Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”
“Sudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.”
Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai.
Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.
“Ini surat siapa?” tanya Habib.
“Owh, itu surat ibu saya.”
“Bacalah!”
Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.
“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.
“Sudah.”
“Berapa kali?”
“Satu kali.”
“Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”
“Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.” Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.
“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.
Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.
Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan,
لأنك قرأت رسالة أمك بالفرح فلو قرأت رسالة نبيك بالفرح لحفظت بالسرعة
“Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal. ”
* * *
Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya.
Bagi guru/pengajar, jangan mudah mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. Mungkin anda tidak berhasil menanamkan VIRUS CINTA di hati mereka.
Selasa, 18 September 2012
KH. Nafi' Abdullah Salam: Mengapa Harus Gegeran?
Mengapa perpecahan makin seru dan menjadi-jadi? Sebab sekarang ini setiap kali orang berbeda pendapat itu tidak mengikuti cara ulama’ dulu. Dulu beliau-beliau kalau beda pendapat tidak mencari bolo (pengikut--Jw), ditandangi (dihadapi--Jw) sendiri dan tidak mencari pengikut apalagi dengan cara-cara memfitnah. Imam madzahib dan para kyai beda pendapat tapi dengan tetap menghormat. Pada zaman dahulu banyak gegeran, tapi ‘bar yo bar’ (tidak ada dendam--Jw), tidak mencari teman untuk berseteru. Lha sekarang, gegeran selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, mengajari memfitnah maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.
Ulama’-ulama’ terdahulu bisa menjadi baik karena berpegang teguh dan berkeinginan untuk menjadi muttaqin yang mukmin beneran. Ulama’-ulama’ ini berpegang pada firman Allah (QS. Ali-Imron: 134-135)
وَالَّذِيْنَ يُنْفِقُونَ فِى السراء وَ الضَّراء وَالكَاظِمِيْنَ الغَيظَ وَالعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ واللهُ يُحِبُّ المُحْسِنِيَن وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوا فَاخِشَةً أَو ظَلَمُوا ذَكَرُوااللهَ فَاسْتَغْفَرُوالِذِنُوبِهِمٍ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يَصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهَمُ يَعْلَمُونَ
Mereka adalah orang-orang yang membelanjakan hartanya, baik dalam keadaan cukup, kurang, mampu maupun tidak mampu, demi mendapatkan perkenan Allah. Kemudian, disamping itu, juga menahan marah sehingga tidak sampai membalas terutama kepada orang yang tidak berbuat baik kepada mereka, bahkan memaafkannya. Mereka itu termasuk orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah akan selalu memberi pahala dan perkenan-Nya kepada orang-orang seperti ini.
Juga apabila orang-orang yang--apabila berbuat dosa, besar atau kecil--segera mengingat Allah dengan keagungan, siksa, pahala, kasih sayang, dan murka, kemudian menyesal dan memohon ampunan-Nya. Hanya Allah-lah memang, yang dapat mengampuni dosa. Disamping, setelah itu semua, mereka juga tidak terus melakukan dosa dan perbuatan yang mereka ketahui tidak baik.
Sebenar-benar mukmin adalah sebagaimana firman Allah (QS. Al-Anfal: 2-4)إِنَّمَا المُؤْمِنُونَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِيْنَ يُقِيْمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ألَئِكَ هُمُ المُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ
Sesungguhnya hati orang-orang yang benar-benar beriman selalu dipenuhi rasa takut dan tunduk kepada Allah. Apabila disebut asma Allah hati mereka bergetar dan diliputi rasa takut (Haybah). Semakin mereka mendengar ayat Al-Qur’an dibacakan, semakin kokoh keimanan mereka dan semakin dalam rasa tunduk serta semakin bertambah pengetahuan mereka kepada Allah. Sehingga, pada akhirnya mereka tidak menyandarkan diri selain kepada Allah yang menciptakan, melindungi, dan memelihara mereka. Sesungguhnya oranng-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang mengerjakan sholat berikut rukun-rukunnya secara sempurna dengan penuh rasa khusyu' dan ketundukan diri agar mereka selalu dalam keterkaitan dengan Tuhan, menginfakkan sejumlah harta yang diberikan Allah SWT kepada mereka untuk kepentingan jihad, kebaikan-kebaikan sosial dan bagi kepentingan kaum lemah.
Mereka yang memiliki sifat-sifat yang seperti tersebut diatas itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah. Dia memberikan perkenan-Nya kepada mereka, mengampuni kesalahan, memberikan rizki yang baik kepada mereka di dunia dan kehidupan yang membahagiakan di akhirat (QS.Al-Hujurat: 12)
يَاأَيُّهَا الذِيْنَ أَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ أَنْ تَأَكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُموهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah prasangka buruk terhadap orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa yang harus dihukum. Janganlah kalian menyelidiki dan mencari-cari aib dan cela orang-orang muslim, dan jangan pula kalian saling menggunjing yang lain. Apakah salah seorang d iantara kalian senang memakan bangkai saudaranya yang mati yang kalian sendiri sebenarnya merasa jijik? Maka bencilah perbuatan menggunjing, karena perbuatan menggunjing itu bagaikan memakan bangkai saudara sendiri. Peliharalah diri kalian dari azab Allah dengan menaati semua perintah dan menjahui segala larangan. Sesungguhnya Allah Maha Agung dalam menerima semua pertobatan orang-orang yang mau bertobat, lagi Maha Luas kasih sayang-Nya terhadap alam semesta.
Dengan demikian penyebaran fitnah menjadi berkurang.
Sebenarnya kalau mau gampang-gampangan yang disebut dengan muttaqin dan mu’min beneran yaitu orang-orang yang memenuhi kriteria tadi, tua ora gelonan (dewasa dan tidak mudah sakit hati). Dalam situasi apapun tidak meiliki rasa sakit hati sebab pada hakekatnya semua itu tergantung pada keinginan
من يحرك.
Allah Subhanahu wa ta’ala adalah penguasa alam seisinya.
Transkrip oleh KH. Muadz Thohir dari perbincangan Senin, (2006/04/03) pukul 10.00 WIB di Perguruan Islam Matholiul Falah.
Ulama’-ulama’ terdahulu bisa menjadi baik karena berpegang teguh dan berkeinginan untuk menjadi muttaqin yang mukmin beneran. Ulama’-ulama’ ini berpegang pada firman Allah (QS. Ali-Imron: 134-135)
وَالَّذِيْنَ يُنْفِقُونَ فِى السراء وَ الضَّراء وَالكَاظِمِيْنَ الغَيظَ وَالعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ واللهُ يُحِبُّ المُحْسِنِيَن وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوا فَاخِشَةً أَو ظَلَمُوا ذَكَرُوااللهَ فَاسْتَغْفَرُوالِذِنُوبِهِمٍ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يَصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهَمُ يَعْلَمُونَ
Mereka adalah orang-orang yang membelanjakan hartanya, baik dalam keadaan cukup, kurang, mampu maupun tidak mampu, demi mendapatkan perkenan Allah. Kemudian, disamping itu, juga menahan marah sehingga tidak sampai membalas terutama kepada orang yang tidak berbuat baik kepada mereka, bahkan memaafkannya. Mereka itu termasuk orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah akan selalu memberi pahala dan perkenan-Nya kepada orang-orang seperti ini.
Juga apabila orang-orang yang--apabila berbuat dosa, besar atau kecil--segera mengingat Allah dengan keagungan, siksa, pahala, kasih sayang, dan murka, kemudian menyesal dan memohon ampunan-Nya. Hanya Allah-lah memang, yang dapat mengampuni dosa. Disamping, setelah itu semua, mereka juga tidak terus melakukan dosa dan perbuatan yang mereka ketahui tidak baik.
Sebenar-benar mukmin adalah sebagaimana firman Allah (QS. Al-Anfal: 2-4)إِنَّمَا المُؤْمِنُونَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِيْنَ يُقِيْمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ألَئِكَ هُمُ المُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ
Sesungguhnya hati orang-orang yang benar-benar beriman selalu dipenuhi rasa takut dan tunduk kepada Allah. Apabila disebut asma Allah hati mereka bergetar dan diliputi rasa takut (Haybah). Semakin mereka mendengar ayat Al-Qur’an dibacakan, semakin kokoh keimanan mereka dan semakin dalam rasa tunduk serta semakin bertambah pengetahuan mereka kepada Allah. Sehingga, pada akhirnya mereka tidak menyandarkan diri selain kepada Allah yang menciptakan, melindungi, dan memelihara mereka. Sesungguhnya oranng-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang mengerjakan sholat berikut rukun-rukunnya secara sempurna dengan penuh rasa khusyu' dan ketundukan diri agar mereka selalu dalam keterkaitan dengan Tuhan, menginfakkan sejumlah harta yang diberikan Allah SWT kepada mereka untuk kepentingan jihad, kebaikan-kebaikan sosial dan bagi kepentingan kaum lemah.
Mereka yang memiliki sifat-sifat yang seperti tersebut diatas itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah. Dia memberikan perkenan-Nya kepada mereka, mengampuni kesalahan, memberikan rizki yang baik kepada mereka di dunia dan kehidupan yang membahagiakan di akhirat (QS.Al-Hujurat: 12)
يَاأَيُّهَا الذِيْنَ أَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ أَنْ تَأَكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُموهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah prasangka buruk terhadap orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa yang harus dihukum. Janganlah kalian menyelidiki dan mencari-cari aib dan cela orang-orang muslim, dan jangan pula kalian saling menggunjing yang lain. Apakah salah seorang d iantara kalian senang memakan bangkai saudaranya yang mati yang kalian sendiri sebenarnya merasa jijik? Maka bencilah perbuatan menggunjing, karena perbuatan menggunjing itu bagaikan memakan bangkai saudara sendiri. Peliharalah diri kalian dari azab Allah dengan menaati semua perintah dan menjahui segala larangan. Sesungguhnya Allah Maha Agung dalam menerima semua pertobatan orang-orang yang mau bertobat, lagi Maha Luas kasih sayang-Nya terhadap alam semesta.
Dengan demikian penyebaran fitnah menjadi berkurang.
Sebenarnya kalau mau gampang-gampangan yang disebut dengan muttaqin dan mu’min beneran yaitu orang-orang yang memenuhi kriteria tadi, tua ora gelonan (dewasa dan tidak mudah sakit hati). Dalam situasi apapun tidak meiliki rasa sakit hati sebab pada hakekatnya semua itu tergantung pada keinginan
من يحرك.
Allah Subhanahu wa ta’ala adalah penguasa alam seisinya.
Transkrip oleh KH. Muadz Thohir dari perbincangan Senin, (2006/04/03) pukul 10.00 WIB di Perguruan Islam Matholiul Falah.
Langganan:
Postingan (Atom)





